Saturday, 18 October 2014

Bakat Saya Apa ?

Ibu 1 : Eh jeng anak saya 2 bulan les nyanyi disana udah jago nyanyi loh, kemarin dia menang lomba nyanyi pas 17an di panggung RW, kayaknya dia bakatnya di nyanyi deh, ntar kalo dia udah gedean saya mau suruh dia ikut lomba-lomba di tv
Ibu 2 : Wah hebat yah, anak saya udah saya les-in piano kok kayaknya gag ada kemajuan yah, gitu-gitu doang

—-dirumah—–

Ibu 2 : yah kayaknya anak kita gag bakat main piano, kayaknya dia sama deh sama anak Ibu 1, kayaknya dia jago nyanyi
Ayah 2 : emang kamu pernah denger dia nyanyi ?
Ibu 2 : belum sih yah, tapi kita kan gag pernah tau bakat anak kita kalau dia gag nyoba les nyanyi disana

Mungkin sebagian dari anda pernah mendengar obrolan pendek seperti ini. Banyak orang tua berlomba-lomba mengetahui kemampuan atau bakat yang ada pada diri anaknya agar dapat sesegera mungkin mengeksplornya.

Bingham (1986) menjelaskan bakat adalah suatu kondisi atau serangkaian karakteristik atau kemampuan seseorang yang dengan suatu latihan khusus memungkinkannya mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, misalnya kemampuan berbahasa, kemampuan bermain musik dan lain-lain.

Bakat terpendam akan selamanya terpendam kalau kita tidak pernah mengenal media aplikatifnya. Contohnya seperti ini, bagaimana kita mengetahui kalau kita berbakat bermain golf kalau kita tidak pernah bermain golf ? atau bagaimanakah kita mengetahui kalau kita berbakat dalam bermain piano kalau kita tidak pernah bermain piano ? apakah bisa dengan derivatifnya yakni dengan kita mahir memukul batu di tanah dengan tongkat ? atau dengan ketukan-ketukan jari kita pada keyboard laptop pada saat mengetik ? atau mencoba semua hal yang kita rasa kita akan suka ?

Semakin banyaknya tayangan televisi bertajuk pencarian bakat untuk anak muda dan bahkan anak-anak memaksa banyak orang tua memaksakan anak-anaknya sejak dini untuk mengikuti berbagai macam les / kursus-kursus pengembangan bakat, semata-mata untuk mengetahui bakat anaknya, entah les musik, les menari, les masak, les bahasa, les melukis yang bakat-bakat itu memiliki kecenderungan pencapaian menuju eksistensi dan idealisme yang kerap diambil kiblatnya dari tayangan televisi. Bagaimana jika begitu banyak usaha anda memaksa anak anda untuk mengikuti berbagai macam les ternyata anak anda memiliki bakat yang sangat unik yakni, berjalan dengan satu tangan ?

Belakangan ini para orang tua beralih pada FingerPrint-Test ( Analisa Sidik Jari ) yang menganalisa kualitas, bakat, dan gaya belajar seseorang.melalui analisa sidik jari yang memiliki kenyataan bahwa gurat tangan itu tidak pernah ada yang sama satu sama lain. Sebelumnya Chirologi atau ilmu gurat tangan ( Jawa : rajah ) merupakan usaha pra-ilmiah para ilmuwan-ilmuwan terdahulu yang jauh dari kata memadai. Tapi usaha-usaha ini akhirnya pun menjadi dasar pikiran Daktiloskopi ( Ilmu Sidik Jari ) yang pada akhirnya digunakan para ilmuwan-ilmuwan modern untuk menggunakannya dalam bidang pendidikan dan pengembangan. Menurut banyak penelitian, sidik jari tidak pernah berubah sejak kita lahir hingga kita wafat, karena pembentukan sidik jari ditentukan oleh DNA, bersamaan dengan pembentukan otak. Proses pembentukan sidik jari dimulai saat janin berusia 13 minggu, dan sempurna pada minggu ke 24. Karena itulah, para ilmuwan beranggapan sangat wajar bila ternyata bukti ilmiah menyebutkan adanya korelasi lahiriah antara sidik jari dengan kualitas, bakat, dan gaya belajar seseorang.

Tertarik untuk mencoba FingerPrint-Test, memaksa anak anda mencoba banyak les untuk mengetahui bakatnya atau membiarkan anak anda tumbuh mandiri seiring berjalannya waktu dengan pilihannya ? Wanna share ? Kalau saya termasuk yang mencoba semuanya hehehe tapi tanpa paksaan dan saya bilang belajar itu bermain tapi bukan main-main.

Bakat itu talenta atau usaha ?
Homo Ludens ( Manusia Mahluk Bermain )


Daftar Pustaka dan Referensi :
Suryabrata, Sumadi. 2011. Psikologi Kepribadian. Jakarta: P.T. Raja Grafindo.

Re-post from my account at KOMPASIANA

No comments:

Post a Comment