Ibu 1 : Eh jeng anak saya 2 bulan les nyanyi disana udah jago nyanyi loh, kemarin dia menang lomba nyanyi pas 17an di panggung RW, kayaknya dia bakatnya di nyanyi deh, ntar kalo dia udah gedean saya mau suruh dia ikut lomba-lomba di tv
Ibu 2 : Wah hebat yah, anak saya udah saya les-in piano kok kayaknya gag ada kemajuan yah, gitu-gitu doang
—-dirumah—–
Ibu 2 : yah kayaknya anak kita gag bakat main piano, kayaknya dia sama deh sama anak Ibu 1, kayaknya dia jago nyanyi
Ayah 2 : emang kamu pernah denger dia nyanyi ?
Ibu 2 : belum sih yah, tapi kita kan gag pernah tau bakat anak kita kalau dia gag nyoba les nyanyi disana
Mungkin
sebagian dari anda pernah mendengar obrolan pendek seperti ini. Banyak
orang tua berlomba-lomba mengetahui kemampuan atau bakat yang ada pada
diri anaknya agar dapat sesegera mungkin mengeksplornya.
Bingham
(1986) menjelaskan bakat adalah suatu kondisi atau serangkaian
karakteristik atau kemampuan seseorang yang dengan suatu latihan khusus
memungkinkannya mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, misalnya kemampuan berbahasa, kemampuan bermain musik dan lain-lain.
Bakat
terpendam akan selamanya terpendam kalau kita tidak pernah mengenal
media aplikatifnya. Contohnya seperti ini, bagaimana kita mengetahui
kalau kita berbakat bermain golf kalau kita tidak pernah bermain golf ?
atau bagaimanakah kita mengetahui kalau kita berbakat dalam bermain
piano kalau kita tidak pernah bermain piano ? apakah bisa dengan
derivatifnya yakni dengan kita mahir memukul batu di tanah dengan
tongkat ? atau dengan ketukan-ketukan jari kita pada keyboard laptop
pada saat mengetik ? atau mencoba semua hal yang kita rasa kita akan
suka ?
Semakin
banyaknya tayangan televisi bertajuk pencarian bakat untuk anak muda
dan bahkan anak-anak memaksa banyak orang tua memaksakan anak-anaknya
sejak dini untuk mengikuti berbagai macam les / kursus-kursus
pengembangan bakat, semata-mata untuk mengetahui bakat anaknya, entah
les musik, les menari, les masak, les bahasa, les melukis yang
bakat-bakat itu memiliki kecenderungan pencapaian menuju eksistensi dan
idealisme yang kerap diambil kiblatnya dari tayangan televisi. Bagaimana
jika begitu banyak usaha anda memaksa anak anda untuk mengikuti
berbagai macam les ternyata anak anda memiliki bakat yang sangat unik
yakni, berjalan dengan satu tangan ?
Belakangan
ini para orang tua beralih pada FingerPrint-Test ( Analisa Sidik Jari )
yang menganalisa kualitas, bakat, dan gaya belajar seseorang.melalui
analisa sidik jari yang memiliki kenyataan bahwa gurat tangan itu tidak
pernah ada yang sama satu sama lain. Sebelumnya Chirologi atau ilmu
gurat tangan ( Jawa : rajah ) merupakan usaha pra-ilmiah para
ilmuwan-ilmuwan terdahulu yang jauh dari kata memadai. Tapi usaha-usaha
ini akhirnya pun menjadi dasar pikiran Daktiloskopi ( Ilmu Sidik Jari )
yang pada akhirnya digunakan para ilmuwan-ilmuwan modern untuk
menggunakannya dalam bidang pendidikan dan pengembangan. Menurut banyak
penelitian, sidik jari tidak pernah berubah sejak kita lahir hingga kita
wafat, karena pembentukan sidik jari ditentukan oleh DNA, bersamaan
dengan pembentukan otak. Proses pembentukan sidik jari dimulai saat
janin berusia 13 minggu, dan sempurna pada minggu ke 24. Karena itulah,
para ilmuwan beranggapan sangat wajar bila ternyata bukti ilmiah
menyebutkan adanya korelasi lahiriah antara sidik jari dengan kualitas,
bakat, dan gaya belajar seseorang.
Tertarik
untuk mencoba FingerPrint-Test, memaksa anak anda mencoba banyak les
untuk mengetahui bakatnya atau membiarkan anak anda tumbuh mandiri
seiring berjalannya waktu dengan pilihannya ? Wanna share ? Kalau saya
termasuk yang mencoba semuanya hehehe tapi tanpa paksaan dan saya bilang
belajar itu bermain tapi bukan main-main.
Bakat itu talenta atau usaha ?
Homo Ludens ( Manusia Mahluk Bermain )
Daftar Pustaka dan Referensi :
Suryabrata, Sumadi. 2011. Psikologi Kepribadian. Jakarta: P.T. Raja Grafindo.
Re-post from my account at KOMPASIANA
No comments:
Post a Comment