Beberapa
hari yang lalu saya dan teman-teman merencanakan untuk berliburan
bersama setelah Lebaran atau saat Lebaran hari kedua. Merapatkannya
tentu, berbekal gadget kami mencari beberapa destinasi untuk liburan
kami. Tercetus untuk pergi ke tempat Permandian Air Panas tapi dengan
minim budget, biasa mahasiswa itu selalu cari murah tapi harus tetep
kece. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Permandian Air Panas Tirta
Sanita di daerah Ciseeng. Arah pun kami tak tau kembali berbekal gadget
dengan aplikasi Google Maps kami pun dapat dengan segera mencari lalu
menganalisis letak tempat tersebut.
Hari
yang ditunggu pun datang tepatnya 10 Agustus 2013, excited di hari
sebelumnya itu pasti beberapa orang sulit tidur atau bahkan minim waktu
tidurnya. Di first meeting point tepatnya di kampus tercinta di
Universitas Negeri Jakarta kami pun berkumpul. Disini kami mulai belajar
untuk tepat waktu walaupun akhirnya ngaret juga. Kami pun menjemput
seseorang teman kami di daerah Halim untuk kemudian menuju second
meeting point di Margonda Raya.
| Berkumpul di Margonda |
Setelah
berkumpul semua kami pun menuju Ciseeng melalui Sawangan dan Parung.
Perjalanan panjang, macet, panas, berdebu serta jalan rusak yang kami
temui jauh dari bayangan kami, jauh juga dari info yang Miss Google
berikan, sedikit nyasar itu pasti dan akhirnya kami pun sampai ke tempat
tujuan dan lagi-lagi kami terperanjat akan ramainya tempat tersebut.
Parkiran-parkiran liar sepanjang jalan terus menyapa kami. Berbekal info
yang kami cari pada mini rapat kami hari sebelumnya, kami berusaha
untuk mencari parkiran legal dengan tiket masuk yang legal pula. Kami
pun memarkir motor kami berdekatan agar tidak kehilangan arah dan tujuan
sehingga tak tau arah jalan pulang.
Dari
tempat parkiran matahari yang terlalu cerah dan menyengat panasnya
menyapa kami begitupula dengan banyaknya kendaraan yang ada saat itu.
Kami pun akhirnya memasuki loket tiket setelah membayar Rp 2.000,- untuk
parkir dan Rp 10.000,- untuk tiket masuk per kepala. Kami pun disapa
dengan beberapa tabrakan dari orang, bukan kecelakaan lebih tepatnya
tempat yang penuh, panas dan semrawut, yang tidak mungkin kita dapat
berjalan tanpa bertabrakan atau bersenggolan, pesta rakyat kami
menyebutnya. Ikuti arus itu yang jadi pegangan kami, kami berjalan
karena dorongan tapi bukan motivasi dari orang di belakang kami. Bosan
menjadi domba yang dicocok hidungnya kami pun mencari jalan lain untuk
berputar mengitari tempat itu.
Orang
piknik bertikar, anak-anak yang asik berOutbound ria, anak-anak
dikereta gantung dan ayuh, anak-anak dalam bola dalam air, anak-anak
dengan kapal di air, orang-orang dalam kolam permandian air panas,
orang-orang berjualan makanan, hewan sampai pijit-pijit dengan bekam/kop
di gelar disana. Yang membuat saya sedikit penasaran adalah permainan
dengan melempar gelang-gelang kearah hadiah yang diinginkan, lumayan
banyak disana dan lumayan banyak yang tidak berhasil bahkan sepanjang
saya lihat tidak ada yang berhasil karena gelang-gelang itu jatuh jauh
dari apa yang dipikirkan dan inginkan. Di atas tampaknya yang paling
rame adalah aksi penyanyi di panggung dengan musik-musik melayu dan
dangdut yang terdengar sampai parkiran.Tidak ingin pulang dengan
menyesal karena tidak dapat apa-apa kami pun berfoto dibebatuan yang
entah itu yang disebut gunung kapur barus atau kapur tulis yang berwarna
putih.
| Gunung Kapur, Ciseeng |
Matahari
yang sudah sedikit miring kearah Barat menyapa perut-perut kami untuk
segera beristirahat dan mengisi lobus-lobus pada perut kami tersebut.
Kami pun akhirnya makan dan memilih salah satu tempat makan lesehan.
Dengan harga yang terdapat pada menu dan tidak terlalu extreme untuk
ukuran tempat makan lesehan di tempat wisata. Berembuk itu pasti dan
pasti lama juga untuk sekedar memilih makanan. Seorang teman yang
vegetarian memilih makan dengan menu prasmanan dengan 2 macam sayur dan 3
buah tempe goreng yang irisannya tidak sampai 2 mm dihargai dengan Rp
16.000,- . Saya sedikit mengejeknya karena kaget dengan pilihan makanan
Prasmanan dengan menu seperti itu dihargai dengan harga segitu.
| Makan-makan di Lesehan |
Menu
pesanan kami yang pertama datang adalah mini porsi bakso dengan 3 bakso
yang jauh dari rasa bakso, mie ayam yang dimasak dengan mie telor dan
usus ayam, ketoprak restoran alias dengan mini porsi. Menu yang saya
pesan saat itu adalah Ayam Bakar dan tidak ada, akhirnya saya memesan
Ayam Goreng dan Nasi Putih. Aneh memang Ayam Goreng dijual dengan harga
Rp 8.000,- di tempat seperti itu. Ketika semua teman saya telah selesai
makan, menu makanan saya tak kunjung datang. Saya pun memanggil ibu
penjual yang ada disana, kemudian dia membawa pesanan saya dan jeng
jeng. Penampakan yang tidak pernah saya bayangkan selama makan di tempat
makan. Sontak saya bilang saya mau sayap karena saya telah menulis
potongan sayap di kertas pesanan tadi, tapi ibu itu malah berlalu dan
mengindahkan saya. Beberapa teman saya pun mulai mencela menu makan
siang saya itu dan pastinya terdengar oleh ibu penjual itu. Saya pun
melihat ibu itu menahan tawanya. Mungkin dipikirnya “hahaha ketipu harga
murah nih anak” . Saya pun makan dengan sedikit kesal, ayam yang
pertama lumayan normal tapi yang kedua terasa sedikit seperti sudah
basi. Setelah makan kami pun satu persatu membayar pesanan kami di
kasir. Saya pun tiba di kasir dan menyimak ibu itu menghitung dan
sesekali menyela ibu itu karena masih sempat-sempatnya menaikkan harga
dari harga menu yang tertera. Kalau saya aliran behaviourist sejati
pastinya saya sudah menolak makanan yang saya pesan tersebut dan
tentunya marah-marah disana.
![]() |
| Penampakan Nasi Ayam alias Nasi Kucing |
Kami
pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami menuju Gunung Bunder
di Kaki Gunung Salak. Perjalanan yang tampak jauh sepi dan berbatu pun
mulai menyapa kami, udara yang semula panas mulai berganti menjadi
dingin. Mulai memasuki kecamatan Gunung Bunder jalan mulai menaik dan
terus menaik. Kami pun memutuskan singgah membeli makanan untuk dimakan
disana. Beberapa bungkus nasi uduk dengan telur balado, gorengan bakwan
dan tahu semur jadi pilihan kami dan tak lupa mengisi botol-botol air
minum kami dengan teh tawar gratis. Sesampainya di area Gunung Bunder
dengan membayar Rp 10.000,- per motor kami dapat menikmati jalanan
terjal dan basah karena hujan dengan hiasan pepohonan tinggi yang tampak
seperti jurang sehingga menambah kesan mencekam hutan. Akhirnya dengan
segala jerih payah kami sampai di tujuan kami. Basecamp milik temannya
teman kami itu terbuat dari bamboo dan kayu. Kami pun sejenak istirahat
di sana untuk kemudian meyusuri tanah liat menuju Curug yang tidak jadi
kami kunjungi karena berbayar dan sayang juga kami tidak bisa lama
menikmatinya karena sudah mulai gelap.
| Mampir Isi Perut di Kang Nasi Uduk |
| Foto-foto di Basecamp |
| Narsis Dulu |
| Teman Seperjalanan |
| Foto-foto Kecewa Karena Masuk Curugnya BAYAR |
| Sunset Gunung Bunder |
Kami
pun memutuskan untuk beristirahat di warung dekat Basecamp karena lampu
di Basecamp tidak bisa dinyalakan. Di warung itu kami menyantap bekal
nasi uduk kami bersama-sama dan memesan mie rebus untuk tambahan isi
makanan kami. Suara-suara air yang mengalir di selokan yang terdengar
seperti suara hujan sejenak membuat kami memutuskan untuk berdiam di
sana hingga pagi sebelum kami menyadarinya. Jam menunjuk ke angka 7,
beberapa menelepon ke rumah mengabarkan hari ini tidak pulang kerumah
karena hujan, gelap, dan jalan yang terjal. Setelah kami bertanya-tanya
jalan pulang ke ibu penjaga warung dan menyadari bahwa saat itu tidak
hujan, kami pun memutuskan untuk pulang seperti rencana awal kami yakni
one day trip. Perjalanan panjang menuruni Gunung Bunder dengan
penyinaran lampu motor yang seadanya membawa kami menuju Dramaga Kota
Bogor untuk kembali pulang kerumah. Saya sebagai penunjuk jalan walaupun
pernah sekali melewati jalan itu agaknya galau juga untuk mengingat
jalan tersebut. Tapi Raya Bogor akhirnya kami temukan dan kami langsung
tancap gas menuju rumah masing-masing dengan beberapa ada yang masih
mampir, sedangkan saya mampir di warung tenda dekat rumah untuk
menikmati Rp 12.000,- makan pecel ayam dengan ukuran ayam yang wajar.
Setelah
sebelumnya saya mengurungkan niat untuk pergi mengendarai motor dengan
tangan bekas infusan yang selalu sakit kalau mengangkat barang, sesampai
di rumah saya baru sadar sakit di kedua tangan saya hilang. Untuk trip
selanjutnya kesana harus lebih siap bawa bohlam lampu, kompor, makanan,
tikar dan sebagainya deh.
Harapan itu sirna ketika berharap Nasi Pecel Ayam yang datang malah Nasi Kucing.
212 Km (kalau kata Google Maps) penuh cerita
Re-post from my account at KOMPASIANA

No comments:
Post a Comment