Saturday, 18 October 2014

Ayam Goreng 2 Potong Kecil Itu Harganya Rp 8000,- ( Pesta Rakyat di Gunung Kapur, Ciseeng dan Gunung Bunder )

Beberapa hari yang lalu saya dan teman-teman merencanakan untuk berliburan bersama setelah Lebaran atau saat Lebaran hari kedua. Merapatkannya tentu, berbekal gadget kami mencari beberapa destinasi untuk liburan kami. Tercetus untuk pergi ke tempat Permandian Air Panas tapi dengan minim budget, biasa mahasiswa itu selalu cari murah tapi harus tetep kece. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Permandian Air Panas Tirta Sanita di daerah Ciseeng. Arah pun kami tak tau kembali berbekal gadget dengan aplikasi Google Maps kami pun dapat dengan segera mencari lalu menganalisis letak tempat tersebut.

Hari yang ditunggu pun datang tepatnya 10 Agustus 2013, excited di hari sebelumnya itu pasti beberapa orang sulit tidur atau bahkan minim waktu tidurnya. Di first meeting point tepatnya di kampus tercinta di Universitas Negeri Jakarta kami pun berkumpul. Disini kami mulai belajar untuk tepat waktu walaupun akhirnya ngaret juga. Kami pun menjemput seseorang teman kami di daerah Halim untuk kemudian menuju second meeting point di Margonda Raya.

Berkumpul di Margonda
Setelah berkumpul semua kami pun menuju Ciseeng melalui Sawangan dan Parung. Perjalanan panjang, macet, panas, berdebu serta jalan rusak yang kami temui jauh dari bayangan kami, jauh juga dari info yang Miss Google berikan, sedikit nyasar itu pasti dan akhirnya kami pun sampai ke tempat tujuan dan lagi-lagi kami terperanjat akan ramainya tempat tersebut. Parkiran-parkiran liar sepanjang jalan terus menyapa kami. Berbekal info yang kami cari pada mini rapat kami hari sebelumnya, kami berusaha untuk mencari parkiran legal dengan tiket masuk yang legal pula. Kami pun memarkir motor kami berdekatan agar tidak kehilangan arah dan tujuan sehingga tak tau arah jalan pulang.

Dari tempat parkiran matahari yang terlalu cerah dan menyengat panasnya menyapa kami begitupula dengan banyaknya kendaraan yang ada saat itu. Kami pun akhirnya memasuki loket tiket setelah membayar Rp 2.000,- untuk parkir dan Rp 10.000,- untuk tiket masuk per kepala. Kami pun disapa dengan beberapa tabrakan dari orang, bukan kecelakaan lebih tepatnya tempat yang penuh, panas dan semrawut, yang tidak mungkin kita dapat berjalan tanpa bertabrakan atau bersenggolan, pesta rakyat kami menyebutnya. Ikuti arus itu yang jadi pegangan kami, kami berjalan karena dorongan tapi bukan motivasi dari orang di belakang kami. Bosan menjadi domba yang dicocok hidungnya kami pun mencari jalan lain untuk berputar mengitari tempat itu.

Arena Outbound Permandian Air Panas Tirta Sanita, Ciseeng
Orang piknik bertikar, anak-anak yang asik berOutbound ria, anak-anak dikereta gantung dan ayuh, anak-anak dalam bola dalam air, anak-anak dengan kapal di air, orang-orang dalam kolam permandian air panas, orang-orang berjualan makanan, hewan sampai pijit-pijit dengan bekam/kop di gelar disana. Yang membuat saya sedikit penasaran adalah permainan dengan melempar gelang-gelang kearah hadiah yang diinginkan, lumayan banyak disana dan lumayan banyak yang tidak berhasil bahkan sepanjang saya lihat tidak ada yang berhasil karena gelang-gelang itu jatuh jauh dari apa yang dipikirkan dan inginkan. Di atas tampaknya yang paling rame adalah aksi penyanyi di panggung dengan musik-musik melayu dan dangdut yang terdengar sampai parkiran.Tidak ingin pulang dengan menyesal karena tidak dapat apa-apa kami pun berfoto dibebatuan yang entah itu yang disebut gunung kapur barus atau kapur tulis yang berwarna putih. 

Gunung Kapur, Ciseeng
Matahari yang sudah sedikit miring kearah Barat menyapa perut-perut kami untuk segera beristirahat dan mengisi lobus-lobus pada perut kami tersebut. Kami pun akhirnya makan dan memilih salah satu tempat makan lesehan. Dengan harga yang terdapat pada menu dan tidak terlalu extreme untuk ukuran tempat makan lesehan di tempat wisata. Berembuk itu pasti dan pasti lama juga untuk sekedar memilih makanan. Seorang teman yang vegetarian memilih makan dengan menu prasmanan dengan 2 macam sayur dan 3 buah tempe goreng yang irisannya tidak sampai 2 mm dihargai dengan Rp 16.000,- . Saya sedikit mengejeknya karena kaget dengan pilihan makanan Prasmanan dengan menu seperti itu dihargai dengan harga segitu. 

Makan-makan di Lesehan
Menu pesanan kami yang pertama datang adalah mini porsi bakso dengan 3 bakso yang jauh dari rasa bakso, mie ayam yang dimasak dengan mie telor dan usus ayam, ketoprak restoran alias dengan mini porsi. Menu yang saya pesan saat itu adalah Ayam Bakar dan tidak ada, akhirnya saya memesan Ayam Goreng dan Nasi Putih. Aneh memang Ayam Goreng dijual dengan harga Rp 8.000,- di tempat seperti itu. Ketika semua teman saya telah selesai makan, menu makanan saya tak kunjung datang. Saya pun memanggil ibu penjual yang ada disana, kemudian dia membawa pesanan saya dan jeng jeng. Penampakan yang tidak pernah saya bayangkan selama makan di tempat makan. Sontak saya bilang saya mau sayap karena saya telah menulis potongan sayap di kertas pesanan tadi, tapi ibu itu malah berlalu dan mengindahkan saya. Beberapa teman saya pun mulai mencela menu makan siang saya itu dan pastinya terdengar oleh ibu penjual itu. Saya pun melihat ibu itu menahan tawanya. Mungkin dipikirnya “hahaha ketipu harga murah nih anak” . Saya pun makan dengan sedikit kesal, ayam yang pertama lumayan normal tapi yang kedua terasa sedikit seperti sudah basi. Setelah makan kami pun satu persatu membayar pesanan kami di kasir. Saya pun tiba di kasir dan menyimak ibu itu menghitung dan sesekali menyela ibu itu karena masih sempat-sempatnya menaikkan harga dari harga menu yang tertera. Kalau saya aliran behaviourist sejati pastinya saya sudah menolak makanan yang saya pesan tersebut dan tentunya marah-marah disana.
Penampakan Nasi Ayam alias Nasi Kucing
Kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami menuju Gunung Bunder di Kaki Gunung Salak. Perjalanan yang tampak jauh sepi dan berbatu pun mulai menyapa kami, udara yang semula panas mulai berganti menjadi dingin. Mulai memasuki kecamatan Gunung Bunder jalan mulai menaik dan terus menaik. Kami pun memutuskan singgah membeli makanan untuk dimakan disana. Beberapa bungkus nasi uduk dengan telur balado, gorengan bakwan dan tahu semur jadi pilihan kami dan tak lupa mengisi botol-botol air minum kami dengan teh tawar gratis. Sesampainya di area Gunung Bunder dengan membayar Rp 10.000,- per motor kami dapat menikmati jalanan terjal dan basah karena hujan dengan hiasan pepohonan tinggi yang tampak seperti jurang sehingga menambah kesan mencekam hutan. Akhirnya dengan segala jerih payah kami sampai di tujuan kami. Basecamp milik temannya teman kami itu terbuat dari bamboo dan kayu. Kami pun sejenak istirahat di sana untuk kemudian meyusuri tanah liat menuju Curug yang tidak jadi kami kunjungi karena berbayar dan sayang juga kami tidak bisa lama menikmatinya karena sudah mulai gelap. 

Mampir Isi Perut di Kang Nasi Uduk
Foto-foto di Basecamp
Narsis Dulu
Teman Seperjalanan
Foto-foto Kecewa Karena Masuk Curugnya BAYAR
Sunset Gunung Bunder
Kami pun memutuskan untuk beristirahat di warung dekat Basecamp karena lampu di Basecamp tidak bisa dinyalakan. Di warung itu kami menyantap bekal nasi uduk kami bersama-sama dan memesan mie rebus untuk tambahan isi makanan kami. Suara-suara air yang mengalir di selokan yang terdengar seperti suara hujan sejenak membuat kami memutuskan untuk berdiam di sana hingga pagi sebelum kami menyadarinya. Jam menunjuk ke angka 7, beberapa menelepon ke rumah mengabarkan hari ini tidak pulang kerumah karena hujan, gelap, dan jalan yang terjal. Setelah kami bertanya-tanya jalan pulang ke ibu penjaga warung dan menyadari bahwa saat itu tidak hujan, kami pun memutuskan untuk pulang seperti rencana awal kami yakni one day trip. Perjalanan panjang menuruni Gunung Bunder dengan penyinaran lampu motor yang seadanya membawa kami menuju Dramaga Kota Bogor untuk kembali pulang kerumah. Saya sebagai penunjuk jalan walaupun pernah sekali melewati jalan itu agaknya galau juga untuk mengingat jalan tersebut. Tapi Raya Bogor akhirnya kami temukan dan kami langsung tancap gas menuju rumah masing-masing dengan beberapa ada yang masih mampir, sedangkan saya mampir di warung tenda dekat rumah untuk menikmati Rp 12.000,- makan pecel ayam dengan ukuran ayam yang wajar.

Setelah sebelumnya saya mengurungkan niat untuk pergi mengendarai motor dengan tangan bekas infusan yang selalu sakit kalau mengangkat barang, sesampai di rumah saya baru sadar sakit di kedua tangan saya hilang. Untuk trip selanjutnya kesana harus lebih siap bawa bohlam lampu, kompor, makanan, tikar dan sebagainya deh.

Harapan itu sirna ketika berharap Nasi Pecel Ayam yang datang malah Nasi Kucing.
212 Km (kalau kata Google Maps) penuh cerita 

 Re-post from my account at KOMPASIANA

No comments:

Post a Comment