Sunday, 19 October 2014

Sawarna (The Hidden Paradise)

Buka-buka grup cari-cari info lagi di forum banyak yang nawarin ke Sawarna, setelah googling tentang Sawarna jadi pengen kesana. Mau jalan sama temen-temen tapi susah nyamain jadwalnya jadi mending ikut yang udah terjadwal kannnn ya jadinya gabung trip orang.

Dengan mepo di Tugu Kujang Bogor yang gw rasa agak jauh yaa dari rumah tapi cukup bisa diakses. Lagi-lagi daripada nanya sama TS nya saya lebih memberdayakan googling untuk cara termudah ke Tugu Kujang. Dengan berkereta sampai Bogor kemudian naik angkot 03 yang ternyata salah arah naik malah jadi ke Laladon akhirnya setelah naik 03 lagi sampailah di Tugu Kujang (Inilah Malu Bertanya Sesat di Bogor)

Gak nunggu beberapa lama sembari kenalan dengan peserta yang lain, akhirnya Bus pun berangkat. Ditengah malam kita pun dibangunkan karena harus berpindah jadi menaiki Elf karena akses menuju Sawarna dirasa sulit apabila menggunakan Bus. Dinginnya malam semakin menjadi karena salah milih tempat duduk deket pintu Elf. Sesampai di Desa Sawarna gw bersorak dalam hati dan segera mengikuti instruksi si Teguh (TS trip ini) untuk segera menuju ke Homestay untuk beristirahat. 

Bangun pagi pun segera menuju ke kamar mandi untuk mandi daripada keduluan dan akhirnya ngantri lama karena saingan mandi kali ini adalah wanita-wanita. Setelah semua selesai mandi dan makan kami pun segera menuju destinasi pertama kami dengan berjalan kaki yakni ke Goa Lalay (Kelelawar). 
Berjalan menuju Goa Lalay (Gw, Tinna, Pika, Mba Atty, Rorra, Yuni, Kiki, Tisa)


Lelah melanda dan karena tidak mau mengulangi hal yang sama karena tidak bertanya gw bertanya kepada beberapa orang dimana letak Goa Lalay. Kita mendapat jawaban yang mencengangkan yakni masih agak jauh. DAMN, kata temen gw kalo lw nanya sama orang kampung tentang jarak dijawabnya deket ajah itu masih jauh apalagi kalo "masih agak jauh" . Kemudian iseng nanya sama anak kecil yang lagi main.

Gw : Misi dek, Goa Lalay dimana ya?
Dia : Lewat sana OMMMM
Gag liat apa nih anak (Kibas rambut busungkan dada)
Alhasil akibat kejadian tadi gw jadi di panggil om sama temen-temen yang lain HIKSS

Akhirnya sampai lah di Goa Lalay dan ternyata ketemu senior idola pas di kampus lagi kesana juga sama temen-temen kantornya. Setelah siap-siap masuk ke Goa Lalay, udah kebayang ajah kalo ada kelelawar disana udah pasti ada tai nya dimana-mana dan disana gak boleh pake sendal supaya gak ilang dan nyangkut pas lagi tracking di dalam Goa Lalay. Didalam Goa Lalay gw mulai menikmati kenyalnya lumpur bercampur air yang melewati sela-sela jari kaki gw. Beruntung pake celana pendek karena keluar dari Goa Lalay pakaian gw gak ada yang basah ahahhaha

Cheersssssssssss (di dalam Goa Lalay) Coba cari gw yang mana??





Setelah dari Goa Lalay kita bersiap untuk tracking melewati sawah dan perbukitan untuk ke Lagoon Pari. 
Melewati Sawah
Melewati Bukit


Pantainya Mengintip dari Kejauhan (Icha, Tika, Pika, Tina, Yuni)



Kalau liat pantai yang indah itu cuma bisa teriak dalam hati (padahal mah males panas-panasan). Sambil duduk-duduk di bawah pohon gw dan Yuni memperhatikan kesibukan teman-teman lain yang heboh foto-foto. Sampai akhirnya gw mupeng dan ikutan gabung hahahha.
Edisi Anjing Laut
Edisi Patrick Star
Setelah selesai foto-foto dan ngemil Mie Goreng, tracking pun dilanjutkan melalui pesisir menuju Tanjung Layar.Track ini sempat menuai kontroversi antar peserta karena teriknya siang di pesisir ataupun lelahnya jika harus tracking melewati atas tebing. Kami pun setuju untuk melewati pesisir yang terik dan berbatu.

Track Menuju Tanjung Layar (Airnya Panas loh)






Narsis di Tebing (Astaga Perut Ane Berlipet)





Entah kenapa pas tiba di Tanjung Layar gw jadi males poto-poto gegara ngeliat ada 2 orang poto di karang itu eh tiba-tiba terhempas ombak sampe jatuh. Gw lebih memilih santai-santai di Saung sambil minum es kelapa dan makan ikan bakar. Dan tentunya menikmati pemandangan dari saung sembari ngunyah ahahahhaha

Penampakan Tanjung Layar dan Track Berbatunya
Penampakan Es Kelapa ala SAWARNA
Penampakan Ikan Bakar ala SAWARNA




Pertunjukan Ombak Berdebur
Setelah perut terisi dan masih juga njegat abang cilok, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Ciantir untuk ngelihat Sunset. Di Pantai Ciantir ini tak jauh berbeda dengan Tanjung Layar tadi karena banyak sekali saung-saung disana. Pantai Ciantir ini memanjang dan berpasir putih berbeda dengan Tanjung Layar yang dominan berbatu. Banyak cara menikmati Pantai Ciantir ini, dari yang sekedar tidur-tiduran di saung, numpang ngecharge di saung, numpang ngobrol di saung, main bola, main volly, surfing, foto-foto, ketawa-ketawa sampai galau sendirian sambil mandangin matahari tenggelam.

Saung di Pantai Ciantir
Main Gawang bukan Main Bola
Matahari dan Gawang
Kasian gak ada yang main VOLLY

Kang Bule lagi Berenang
Kang Bule lagi Surfing
Matahari dan Ombak
Om Asthi lagi GALAU



Hari mulai gelap dan sebelum sangat gelap, kami pun menyegerakan diri pulang karena sejauh mata memandang kami tidak menemukan rombongan kami. Berbekal tanya kamipun segera mengikuti petunjuk orang sekitar menuju Homestay kita.
Dari 1 Bis cuma sisa Berempat yang ketemu (Yuni, Tika, Icha)

Tolong Translate-in 

Sesampainya di Homestay kami melihat beberapa dari kami sudah ada yang mandi dan siap malam mingguan. Kami pun segera mandi kemudian makan dan memulai deep conversation basa basi ala Backpacker ahahhaaha. Dan kemudian saling mencela takdir kejombloan di MALAM MINGGU yang kemudian jadi horror kedengarannya. Saking mirisnya beberapa teman menyuruh saya untuk ke ALFA**** depan supaya malam minggunya ada yang  ngucapin SELAMAT (kasian banget). Setelah puas berkali-kali buka pintu ALFA**** tapi gak ada yang ngucapin kami memutuskan untuk kembali ke Homestay dan akhirnya tidur karena keesokan paginya kami akan menuju destinasi berikutnya yakni ke Permandian Air Panas Cisolok.

Bangun pagi ku terus mandi terus makan terus packing terus menuju Permandian Air Panas Cisolok. Sesampainya disana terik matahari terus menghantui kami menuju letak sumber mata air panas alaminya. Sempet mikir ajah gak perlu ke sumber mata airnya juga kalo lw mandi di siang terik gini juga panas kali ckckck.

Sumber Mata Air Panas so Dekat
Kayak lagi acara apa gitu pada ngumpul
Tau gak apa yang suka gw sebelin kalo ketempat yang ada sumber mata air panasnya. Yepp orang-orang pada ngerebus telor, entah apa yang ada di benak mereka, mau coba-coba bisa mateng apa enggak. mau pamer sama yang gak punya telor, ato dirumahnya kagak ada kompor kali yeee. Sumpah disana bau telor banget, yakali mandi disana bukannya badan jadi enak, yang ada badan jadi bau telor.

Selesai berpoto-poto tidak lupa gw nyari gorengan buat penunda lapar dan tak lupa jajan cilok yang udah pasti rasanya gak enak tapi tetep ajah gw beli. Sembari menunggu teman-teman lain berkumpul, kami santai-santai di saung, jajan-jajan biar bisa numpang boboan di saungnya ahahahhahaha. Kami pun akhirnya kembali melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Ratu untuk berpindah kembali ke Bus yang akan membawa kami kembali ke Tugu Kujang. Dan tak lupa pas di Pelabuhan Ratu ada mamang cilok yang menggoda ingin dibeli (di trip kali ini gw udah 3 kali jajan cilok ahhaha). Perjalanan panjang melewati daerah yang naik turun dengan pemandangan yang menggoda menjadi santapan kami kali itu sampai akhirnya terlelap dan akhirnya sampai di KFC dekat Tugu Kujang. Dan berhubung pool bis nya ngelewatin Stasiun Bogor, gw memilih untuk turun depan Stasiun.

Sesampainya di Stasiun Bogor perjalanan berkereta ini dilanjutkan dengan beberapa teman, yakni Ryana yang mau turun di Tebet, Pika yang mau turun di Cawang buat lanjut ke Priuk, dan yang terakhir Yuni yang menemani sampai akhir berkereta karena beliau turunnya si Stasiun Bekasi. Sepanjang perjalanan obrolan dan kekantukan menjadi teman cerita yang jujur, sampai akhirnya kembali ke tujuan pulang masing-masing. Dan rumah selalu jadi tempat yang paling dirindukan dikala bepergian.

Menelisik Baduy

Kali pertama ikut gabung di sebuah forum Backpacker Indonesia gw tertarik dengan kemistisan yang pernah diceritakan temen sekampus yakni ke Baduy pada saat dia dan teman-teman sekelas sosiologinya melakukan penelitian kesana. Akhirnya tercetus lah untuk gabung sama tripnya trip n vacation, salah satu akun backpacker yang menawarkan ngetrip ke Baduy pada tanggal 24-25 Agustus 2013. Setelah 2 minggu sebelum keberangkatan ini merencanakan ke Taman Nasional Ujung Kulon tapi gagal karena harus opname akibat DBD. 

Yang namanya gw pasti gak jauh-jauh dari identitas TELAT, entah karena kesengajaan dan kesenangan untuk menunda ataupun ada bencana mendadak yang menghalau untuk datang telat. Yapp pagi itu ketika sudah berniat untuk tidak melakukan penundaan karena kendaraan yang kita gunakan di MEPO yakni kereta dari Stasiun Tanah Abang, tapi takdir berkata lain ketika hendak berangkat motor sulit distarter, diutak-atik sampe tangan gw dan bokap ber-oli juga gak nyala-nyala. Alhasil dengan kecepatan bulan gw gowes ke Stasiun Kranji untuk nitip motor kemudian keretaan ke Stasiun Tanah Abang. 

Sepanjang jalan mba Vira (TS trip ini) gak henti-henti nanyain gw dimana karena kereta Kereta AC Kalimaya yang akan kita tumpangi udah dateng. Gw disuruh untuk cari orang yakni mas Ario (TS trip ini) yang pake iket Baduy di kepala, untuk minta karcis kereta. Selain gw gatau iket kepala Baduy itu kayak gimana, ternyata yang pake iket kepala di Stasiun Tanah Abang banyak banget. Alhasil gw celingak-celinguk di samping kereta dan akhirnya ada yang nanya nama gw (FIX ini mas Ario pasti). Kemudian gw nyari tempat duduk yang sesuai dengan tiket yang dikasih ke gw dan duduk diantara peserta trip yang gak gw kenal sama sekali. Ngobrol-ngobrol sedikit kenalan terus lanjut tidur karena kelelahan.

Sesampainya di Stasiun Rangkas Bitung kita disuruh makan atau cari makan dulu untuk di makan di Ciboleger, karena kata TS nya, disana gak ada yang jualan makanan, kalaupun ada ya rasanya gak jelas. Oke akhirnya setelah ke toilet nyari warung makan terdekat dan beli nasi bungkus pake telor dan ayam goring (menurut gw makanan paling aman rasanya tuh ini, karena dengan atau tanpa garam tetep enak hahaha). Karena udaranya yang panas gw pun berinisiatif beli ice cream hahaha.

Kemudian perjalanan pun dilanjutkan dengan menaiki elf menuju Ciboleger (kampung sebelum masuk ke pedalaman Baduy). Satu jam kurang akhirnya kami sampai di Ciboleger dan semua orang kemudian segera mencari makan dan gw? Makan bekal yang dibeli di Rangkas tadi. Banyak yang mengeluh makanan di warung tadi gak enak (Kalo mau enak mah di Resto). Kasian gw belum punya temen jadinya ngobrol sama diri sendiri. Akhirnya pas makan basa-basi sedikit sama salah satu peserta dari Bandung yang namanya Fany. Kemudian kenalan lagi sama Dwi, Rani, dan Veri yang jadi teman ngobrol seperjalanan nanti. Sebelum melanjutkan perjalanan memasuki Baduy luar dan dalam, kami menyempatkan berfoto di icon kampong Ciboleger. 

Teman seperjalanan (Veri, Rani, Fany, Gw, dan Dwi) Icon Cibolegernya malah gak keliatan :(

Kami pun memasuki daerah Ciboleger dan berhenti sejenak di Mesjid untuk Shalat dan beristirahat. Kemudian beberapa anak Ciboleger mendatangi kami membawa aksesoris dan tongkat kayu tracking untuk di jual kepada kami. Disitu gw tertarik dengan seorang gadis kecil begini kira-kira
Gw : Ini berapa ?
Dia : 10 ribu 3
Gw : Yang ini ?
Dia : 10 ribu 3
Gw : Kalo 20 ribu ?
Dia : 10 ribu 3
Dan kemudian anak ini jadi candaan kami karena agaknya di setting untuk ngomong kalau harganya 10 ribu 3, udah gitu ajah.

Gadis Kecil Penjual Aksesoris dan Tongkat Kayu Tracking
Perjalanan pun dilanjutkan dengan sebuah tongkat kayu tracking yang malah mempersulit gw jalan karena kayunya kena orang lain mulu. Baru jalan sebentar keringat sukses membuat baju basah dan badan dingin serta nyeri dibagian dada. Alhasil gw pake porter seorang Baduy yang juga sukses ngegombalin gw sepanjang jalan dan nge-PHP-in gw kalo sebentar lagi sampe. 
Track Baduy
Rombongan kami
Rumah Orang Baduy Luar
Perjalanan tak kunjung sampai padahal kaki ini sudah lelah sekali (baru tau ternyata apabila kita kekurangan oksigen, tubuh akan mengambil oksigen dari bagian tubuh yang kurang penting yakni kaki, sehingga kaki akan mengalami kelelahan terlebih dahulu). Perjalanan belum berakhir sembari sedikit-sedikit foto dan sedikit-sedikit istirahat dan mulai berbagi persediaan air minum karena perjalanan panjang dan panas yang terik ini lagi-lagi sukses membuat dehidrasi sehingga kepala mulai menunjukkan pemberontakan sehingga terjadilah nyut-nyut dikepala. 


Istirahat
Bersama Fany, Dwi dan Rani Berfoto di Jembatan Bambu
Jembatan Bambu
(Veri, Bapak-bapak dan Mas Ario) Istirahat
Ibu-ibu Penenun
 Akhirnya kami memasuki kawasan Baduy Dalam dimana kita tidak diizinkan untuk mengambil foto atau menggunakan gadget apapun disini. Panas semakin terik dan akhirnya kita sampai di cobaan terbesar sepanjang jalan yakni menaiki tanjakan cinta atau tanjakan lope. Karena terlahir sebagai orang yang kepo gw pun bertanya kenapa namanya tanjakan lope. Usut punya usut selain karena tingginya tanjakan lope tersebut, kebanyakan orang lewat tanjakan itu selalu saat siang terik dan SAYANG ajah kalo udah jalan setengah jalan malah turun lagi.

Setelah di-PHP-in berkali-kali sampailah kita ke tanah kampong Cibeo tempat kita bermalam nanti. Surga banget ketika sampai lelah ini hilang karena senang. Kemudian gw dan beberapa wanita lainnya mencari tempat mandi dan SUPER banget seger banget airnya. Setelah mandi kami duduk-duduk di teras-teras rumah untuk sekedar bercengkrama dengan warga dan bermain-main dengan anak-anak Baduy. Malamnya kita membongkar persediaan makanan kami untuk di masak oleh ibu-ibu Baduy. Selesai makan malam obrolan hangat dimulai, banyak tanya yang diungkapkan oleh Fany dan banyak ke-Diam-an yang gw ciptakan karena gak bisa ngomong bahasa sunda hahaha. Ini malam minggu dan jam menunjukkan pukul 20.00 dan di Kampung Cibeo ini sudah sangat gelap dan sepi. Kami pun memutuskan untuk tidur dengan menggelar Sleeping Bag karena katanya menjelang subuh udara di sini sangat dingin.

Keesokan paginya setelah makan dan mandi kami melanjutkan perjalanan panjang untuk kembali ke Ciboleger dengan track yang lebih curam namun lebih adem dan banyak sumber air minum. Baru jalan sebentar kaki udah lelah dan jalan mulai lama dan setiap ketemu sumber mata air gw selalu memenuhi pundi air minum gw dan pundi-pundi perut gw supaya kembung. Tiap ada tanjakan Mas Ario ini udah nyemangatin mulu sampe-sampe dorong-dorong biar gw cepet jalan nanjaknya gak pake berhenti-berhenti tiap 2 langkah. Kejadian memalukan pun terjadi, pas gw ngelewatin sebuah jembatan bamboo tua yang rapuh, gw terperosok dan Mas Ario dengan cepet nolongin gw sehingga gw gak jadi kecebur di sungai kecil. Alhasil gw sepanjang jalan malu gak berani liat dia dan milih jalan sama orang-orang Baduy karena gak habis-habisnya gw dicengin sama dia… Hiks. Perjalanan kali ini juga penuh cerita karena selain maen gombal-gombalan sama orang-orang Baduy yang pada ngecengin karena jalan gw yang lama. Gw jadi tau ternyata banyak dari mereka yang sering ke Jakarta. Dan sedikit tertampar melihat seorang Baduy yang membawa kayu besar sepohon menaiki tanjakan terjal (sadissss, gw gini aja udah ngeluh mulu). 

Jembatan Akar
Beberapa dari kami mulai tumbang karena keseleo dan beberapa menawarkan sedikit lagi ada tukang ojek yang bisa membawa kita langsung ke Ciboleger tapi dengan jalan yang bisa disebut lahan off road. Karena gak ada yang mau naik ojek, akhirnya gw yang turun tangan naik ojek biar bisa ngerasain off road beneran ahahhaha (padahal mah capek). Dan benar sadis banget naik motor begini, mau peluk akangnya juga gak mungkin soalnya bukan pacar, akhirnya pegangan belakang motor kya di GTA. Sepanjang jalan ngobrol dan nanya sama akangnya apa dia dari Baduy dan dia menjawab saya mah orang Islam (lah perasaan gw nanyanya dia Baduy apa bukan). Ternyata jika ditanya begitu pasti mereka akan menjawab seperti itu untuk membedakan dengan orang Baduy yang menganut Sunda Wiwitan.

Sesampai di Ciboleger langsung masuk Alfamart buat cari yang seger-seger dan kemudian beristirahat di saung yang hampir ajah bikin ketiduran. Akhirnya teman-teman yang lain datang menjemput diriku yang sendirian hahaha. Perjalanan pun dilanjutkan dengan elf menuju Stasiun Rangkas Bitung dan beberapa dari kami pun berpisah, ada yang menggunakan kereta Rangkas Jaya ada yang menggunakan kereta AC Kalimaya. Gw memilih untuk naik Rangkas Jaya yang lebih menantang karena penumpangnya gak beraturan dan banyak yang jualan hahaha. Turun dari Rangkas Jaya gw melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Commuter Line menuju Stasiun Kranji bersama Rani yang ternyata rumahnya gak jauh dari rumah gw. Sesampai di Kranji kami memutuskan untuk makan sejenak di warung tenda dan kemudian pulang dengan gowes sampai rumah.

Nb. Pada akhirnya gw lupa tujuan gw ke Baduy cari yang mistik-mistik, karena terlalu fokus sama kaki yang gak biasa di ajak kompromi.

Lupa juga nyokap kemarin minta oleh-olehnya anak Baduy.